Nama : Ni Made Alit Prabawati
NIM : 0820025054
Judul paper : Aktifkan VCT dengan menghapus stigma dan menghentikan diskriminasi terhadap ODHA.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada awalnya, virus HIV in muncul sekitar tahun 1980an disebabkan oleh virus yang menular dari hewan jenis primata kepada manusia melalui proses zoonosis. AIDS( Acquired Immune deficiency Syndrome) merupakan kumpulan penyakit yang bisa menyebabkan kematian karena disebabkan oleh virus HIV. Virus ini menyerang system kekebalan tubuh dengan masa inkubasi yang lama kurang lebih 5-10 tahun. Sebelum timbul gejala-gejala penyakit yang terkait dengan AIDS misalnya penyakit infeksi menular seksual, penyakit menahun dan lainnya, individu yang terifeksi tidak dapat di identifikasi secara fisik karena keadaan fisiknya masih sehat namun dalam tubuhnya terdapat virus yang mematikan yaitu HIV. Virus HIV ini dapat ditularkan melalui pengguna narkoba jenis jarum suntik, hubungan heteroseksual, hubungan homoseksual, hubungan seksual berganti-ganti pasangan misalnya yang dilakukan oleh PSK, ibu kepada anaknya dan yang sedang maraknya saat ini adalah dari suami yang sering “jajan” kepada istrinya. Pengguna jarum suntik oleh pecandu narkoba yang terinfeksi virus HIV/AIDS di Bali cukup mengkhawatirkan karena jumlahnya terus bertambah. Selama 4 tahun terakhir kasus ini meningkat lima persen dari 45 persen pada tahun 2003 menjadi 50 persen dari 2.112 kasus HIV/AIDS hingga akhir Mei 2008. Selain narkoba suntik, kasus penderita HIV/AIDS dari kalangan PSK juga bertambah dari 3 persen menjadi 20 persen. Penyakit yang semakin mengkhawatirkan ini juga mengalami peningkatan pada pria pelanggan PSK dari 1 persen pada tahun 2003 menjadi dua persen pada Mei 2008. Kasus HIV/AIDS secara kumulatif di Bali hingga akhir Mei 2008 tercatat 2.112 penderita dan telah merenggut 185 korban jiwa. Dari penularan HIV/AIDS tersebut 58 persen diantaranya lewat heteroseksual atau hubungan seks lawan jenis dengan berganti-ganti pasangan, separaruh lebih menimpa usia produktif umur 20-29 tahun. Estimasi penderita HIV/ AIDS di Bali adalah sekitar 4000 jiwa. Kondisi itu menunjukkan Bali menghadapi epidemi ganda HIV dan AIDS yang cukup memprihatinkan dan jika waktunya tiba, ditakutkan bahwa akan terjadi “lost generation” di Bali. Oleh karena itu diharapkan kepada semua masyarakat agar waspada dan ikut berpartisipasi aktif mencegah penyebaran penyakit ini. Jika tidak, ketahanan dan kualitas kehidupan masyarakat akan berkurang mengingat bahwa sekarang ini telah menjamurnya kafe-kafe dan warung remang-remang di daerah perkotaan maupun di desa. Selain itu di masyarakat juga sudah terjadi pola perubahan perilaku karena dipengaruhi globalisasi. Kesulitan utama yang dihadapi saat ini adalah bagaimana cara menemukan orang-orang yang telah terifeksi yang masih ada di masyarakat. Ibaratnya petugas kesehatan dan LSM sedang mencari jarum di tumpukan jerami. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah VCT( Voluntary Counseling and Testing).VCT ini dapat diibaratkan sebuah magnet besar yang akan pasir-pasir yang dalam hal ini diumpamakan orang-orang yang mengidap HIV yang belum teridentifikasi di masyarakat. VCT ini dibantu oleh seorang konselor yang prinsip paling utamanya adalah menjaga kerahasiaan pasien dan harus menyertakan surat kesediaan pasien dilakukan VCT. VCT ini dilakukan pre-test HIV, test HIV dan post- test. Pre-test dilakukan untuk menyiapkan mental si Calon agar siap menerima apapun hasil tes. Jika hasilnya negative, orang tersebut akan diberikan upaya-upaya untuk tetap waspada agar tidak terinfeksi.Jika hasilnya positif, orang tersebut disarankan untuk menggunakan ARV, di rawat dan diberdayakan agar sisa hidupnya dapat bermanfaat. Dalam pelaksanaannya, VCT ini menghadapi banyak tantangan. Sifatnya yang sukarela, menyebabkan orang-orang yang melakukan VCT jumlahnya belum maksimal sehingga menemukan orang-orang yang terinfeksi terkesan lambat. Stigma keliru yang ada di masyarakat yang menyebutkan bahwa penderita HIV harus dijauhi dan dikucilkan menyebabkan masyarakat potensial merasa takut melakukan VCT. Disamping itu, diskriminasi terhadap ODHA yang menyudutkan posisi mereka sehingga mereka tidak mendapat akses untuk memperoleh hak yang semestinya mereka peroleh yaitu perawatan dan dukungan(care and support). Stigma dan diskriminasi ini harus segera dihapus agar masyarakat dapat melakukan VCT secara aktif tanpa dihantui perasaan dikucilkan atau direnggut hak-haknya.
1.2 Rumusan masalah
Ø Stigma negative dan diskriminasi terhadap ODHA yang ada di masyarakat menyebabkan pelaksanaan VCT belum maksimal. Oleh karena itu, stigma negative dan diskriminasi terhadap ODHA harus segera dihentikan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Metode yang digunakan
Pencarian bahan untuk paper ini dilakukan dengan wawancara kepada konselor VCT dan masyarakat sebagai suatu perkumpulan manusia yang terdiri berbagai macam karakter dan system kekeluargaan yang berbeda serta pencarian data dari internet yang berupa blog maupun situs-situs tentang HIV . Data kemudian di analisis secara kualitatif kemudian ditarik kesimpulan.
2.2 Pembahasan topik
Penyakit HIV AIDS sangat dipengaruhi oleh perilaku individu. Sampai saat ini penyakit ini belum bisa di sembuhkan. Khususnya di Bali, estimasi jumlah orang yang terjangkit penyakit ini adalah 4000 orang dan yang diketemukan baru sekitar 2.400 orang. Berarti sekitar 50% penderita belum diketemukan. Hal yang juga ditakuti adalah penyebarannya bertambah banyak dengan system penyebaran khusus yaitu silent action. Satu-satunya cara untuk mengidentifikasi penderita adalah hanya dengan melakukan tes darah. Program yang sedang digiatkan saat ini adalah VCT( Voluntary Counseling and Testing). Menurut konselor, sebagian besar orang-orang yang melakukan VCT pada awalnya merasa ragu-ragu dan takut. Pelaksanan VCT ini terhambat oleh adanya stigma negatif terhadap ODHA. Hal yang menyebabkan stigma ini muncul pada awalnya yang terkena penyakit adalah pemakai narkoba jenis IDU(Injecting Drug User), PSK, orang-orang yang senang “memitra”( berhubungan intim bukan dengan pasangan sah). Perilaku-perilaku tersebut di interpretasikan oleh masyarakat sebagai perilaku buruk yang kemudian harus dijauhi bahkan si pelaku pun harus dijauhi karena dianggap orang maksiat dan pelaku kriminal. Akhirnya interpretasi yang salah itu terus melekat dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakat.
Selain stigma negatif, yang merupakan hambatan VCT adalah adanya dikriminasi kepada ODHA. Menurut Pasal 1 Ayat (3) UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang berbunyi, “Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung atau tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau penghapusan, pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya”. Penderita HIV/ AIDS diasingkan dari akses terhadap layanan dan fasilitas-fasilitas publik bahkan dibatasi kesempatannya bekerja karena perusahaan-perusahaan tidak menerima karyawan yang menderita HIV. Diskriminasi terhadap penderita HIV AIDS juga dituntun oleh mitos. Orang enggan berdekatan dengan penderita HIV/AIDS karena menyangka bisa tertular oleh keringat atau hembusan nafasnya. Mereka disingkirkan dari masyarakat yang percaya bahwa HIV/AIDS adalah buah dari kehancuran moral dan penderitanya adalah ancaman terhadap “kemurnian” akhlak atau moralitas. Masyarakat yang tidak tahu dengan jelas cara-cara penularan HIV secara sepihak merampas hak- hak pribadi yang dimiliki oleh individu, hak untuk mendapat pekerjaan bahkan hak untuk dapat hidup dengan layak Menurut salah satu konselor, pernah ada kasus seorang Ibu rumah tangga yang mengidap HIV dilarang oleh masyarakat untuk ikut mebanjaran. Kemudian ada lagi kasus seorang pengidap HIV yang menumpang makan di rumah pamannya, pamannya meminta agar piring yang digunakan untuk makan segera di buang karena takut tertular HIV. Tindakan ini memberikan beban psikologis pada ODHA. Kasus lainnya adalah seorang mahasiswi yang juga mengidap HIV karena tertular dari pacarnya yang seorang IDU yang telah meninggal, dia takut memberitahukan kepada teman-temannya karena tidak ingin dikucilkan. Sebenarnya tidak ada seorangpun yang mau terkena openyakit HIV. Mereka pada umumnya terkena penyakit ini lantaran tidak tahu pada awalnya karena ketidaksengajaan. Kasus ini membuktikan sosialisasi mengenai berbagai aspek yang berkaitan dengan penanggulangan dan penanganan HIV/AIDS belum sepenuhnya berhasil. Sosialisasi yang selama ini dilakukan belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat. ODHA masih dianggap sampah masyarakat yang harus disingkirkan dan diasingkan dari kehidupan sebuah komunitas. Dalam suasana kesalahpahaman, ketakutan dan bahkan kebencian, orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS harus menjalani sisa hidupnya dengan hak-hak yang dirampas.
Sebagai anggota masyarakat yang sudah mendapatkan edukasi tentang penyebab HIV dan cara-cara penularannya, kita harus perlahan dan kontinu mengintervensi masyarakat untuk mengubah persepsi dan perilaku terhadap ODHA. Persepsi seseorang berkaitan dengan komponen sikap yang ia miliki. Komponen sikap ini adalah aspek kognitif( pengetahuan), aspek afektif( penilaian subjektif terhadap objek sikap), aspek konatif( tindakan seseorang terhadap objek sikap). Untuk dapat mengubah perilaku seseorang, pertama yang kita lakukan adalah mengubah keyakinan seseorang terhadap suatu objek. Kalau dulu banyak orang berpendapat bahwa penderita HIV perlu dijauhi, maka sekarang harus diubah yaitu agar orang-orang berkeyakinan bahwa yang perlu dijauhi adalah penyakit HIV bukannya orang yang mengidap.
Kita dapat menggunakan salah satu teori yang sering digunakan dalam bidang komunikasi kesehatan sebagai pedoman yaitu Teori nilai-harapan (value-expectancy theory) yang dikemukakan oleh Dr. Martin Fishbein pada awal tahun 1970-an. Value-expectancy theory adalah salah satu teori tentang komunikasi massa yang meneliti pengaruh penggunaan media oleh pemirsanya dilihat dari kepentingan penggunanya. Teori ini mengemukakan bahwa sikap seseorang terhadap segmen-segmen media ditentukan oleh nilai yang mereka anut dan evaluasi mereka tentang media tersebut. Value-expectation theory memiliki tiga komponen dasar yakni:
1. Individu merespon informasi baru tentang suatu hal atau tindakan dengan menghasilkan suatu keyakinan dari hal atau tindakan tersebut. Bila keyakinan sudah terbentuk, itu dapat dan seringkali berubah dengan informasi baru.
2. Setiap individu memberikan sebuah nilai (value) pada setiap sifat di mana keyakinan tersebut tergantung/berdasar.
3. Sebuah harapan (expectation) terbentuk atau termodifikasi berdasarkan hasil perhitungan antara keyakinan (beliefs) dan nilai-nilai (values).
Dalam prosesnya, individu diberikan pengetahuan- pengetahuan yang sebenarnya tentang cara penularan HIV, bukannya pengetahuan berdasarkan mitos. Selain itu perlu diberikan keyakinan bahwa masyarakat juga punya andil untuk turut serta mencegah penyebaran HIV agar masyarakat dapat berperan aktif. Dengan nilai-nilai positif yang akan terbentuk, maka setiap orang akan mulai peduli dengan dirinya untuk melakukan VCT. Orang-orang pengidap HIV akan dihimpun sedemikian rupa, diberikan keterampilan agar dapat berfungsi maksimal selama sisa hidupnya. Masyarakat pun akan merasa sangat terbantu karena penyebaran HIV sudah dapat dikontrol. Sehingga terjadinya kasus-kasu baru dapat dicegah.
BAB III
KESIMPULAN
Adanya stigma negative dan diskriminasi terhadap ODHA secara tidak langsung menyebabkan kurang maksimalnya pelaksanaan VCT. Orang yang tahu akan diskriminasi tersebut enggan melakukan VCT karena takut dikucilkan. Stigma negative dan diskriminasi ini perlu segera dihentikan agar program VCT sebagai salah satu program yang prioritas dalam penanggulangan penyebaran HIV/AIDS.
Stigma negative dan diskriminasi ini dapat dihentikan dengan cara mengubah persepsi dan perilaku masyarakat terhadap ODHA. Hal-hal yang harus dilakukan adalah memberikan pengetahuan-pengetahuan tentang cara penularan HIV(aspek kognitif), mengubah keyakinan seseorang terhadap ODHA(aspek afektif) sehingga pada nantinya seseorang dapat turut aktif melakukan VCT(aspek konatif). Hal-hal itu harus dilakukan secara kontinu agar program penanggulangan penyebaran HIV/AIDS dapat berjalan efektif.